Telephon rumah akhir – akhir ini menjadi sering berdering, seperti pagi itu ada beberapa deringan telephon kesemuanya yang mengangkat adalah Ibuku dan memang telephon itu untuk Ibu. Ibuku adalah Ibu rumah tangga biasa tidak punya pekerjaan dan kegiatan kecuali hanya memasak dan mencuci tetapi tiba – tiba harus menjadi makelar tanah dan rumah karena kondisi keuangan keluarga memburuk serta ayah sering sakit – sakitan sehingga perlu banyak biaya untuk berobat.
Semua berawal dari ayah yang opname di Rumah sakit, seluruh tabungan keluarga terkuras habis untuk biaya berobat ayah, tiba – tiba Ibu memiliki ide untuk menjual tanah beserta rumah warisan di pinggir jalan itu. Kesana kemari Ibu menawarkanya dan iseng memasukkannya pula ke rubrik Koran radar daerah kami.
Dari ide Ibuku itulah telephon rumah kami akhir – akhir ini menjadi laku, setiap kali ada yang menawar dan menanyakan kondisi rumah Ibuku selalu menjawab bahwa rumah tersebut kecil, semua kusain dan tiang – tiang rumah sudah rusak tidak terawat, saluran listriknya di putus, sumber airnya buruk serta asin, di depan rumah tersebut ada pohon besar yang harus segera di tebang serta tetangga banyak mengisukan bahwa pohon tersebut berhantu.
Begitulah cerita Ibuku selalu apabila ada yang ingin menawar rumah dan tanah warisan kami, dan tentu saja calon pembeli selalu membatalkan niatnya membeli. Aku selalu tau apa yang di ucapkan calon pembeli sesaat setelah Ibuku menutup telphon karena Ibu selalu menceritakanya, ada yang bilang jika Ibu terlalu polos menjadi makelar si calon pembeli mengatakanya sambil terbahak sambil bilang maaf dan menolaknya, ada yang bilang jika rumah itu dijadikan museum saja, bahkan ada yang langsung menutup telphonnya karena takut jika membeli rumahnya berhadiah hantu.
Hatiku miris melihat wajah kecewa Ibu setelah setiap kali menutup telphonya, di saat kami benar – benar memerlukan uang Ibu tetap tegar dalam pendirianya untuk jujur. Namun siapa yang mau menyalahkan pembeli mengetahui keadaan seperti itu aku pun akan lari, bisa memerlukan biaya yang cukup besar untuk memperbaikinya. Bagi kami rumah itu juga sangat merugikan karena sesekali kami harus mengeluarkan biaya sewa pekerja untuk menyiangi rumput dan membersihkan rumah.
Namun itulah Ibuku, menurutnya suatu hari pasti akan datang orang yang mau membeli rumah itu dengan keadaan apa adanya, berbohong dengan bilang keadaan yang ada lebih baik dari yang sebenarnya akan membuat orang marah dan kecewa, perasaan kecewa itu dalam ibarat luka akan membekas walaupun sudah diberi antibiotic dan membuat seseorang kapok ( jera ) mengulangi atau mengenali si pembuat luka lagi. Intinya sakit karena di bohongi adalah sangat sakit sehingga Naudzubillah mengalaminya.
Hingga sampai saat ini rumah itu belum juga laku terjual,entah kapan kami bisa menjualnya atau mungkin tak akan pernah terjual. Pikirku mungkin orang – orang akan lebih suka jika kita buai dengan kebohongan dan kemunafikan, setidaknya walau dia tau akan menderita diakhir cerita tetapi setidaknya sebelumnya dia sudah merasakan kesenangan dan kebahagiaan walaupun semu.
Sifat itulah yang paling di benci Ibuku buatnya lebih baik selamanya tidak punya uang dari pada harus membuat orang dan dirinya rugi. Orang yang kena tipu pasti tidak enak makan dan tidurnya serta matinya ngenes karena tidak ikhlas, begitu pula orang yang menipu belum tentu akan bahagia makan dan tidurnya tidak mengenyangkan dan barokah serta matinya pasti akan mengenaskan. Sesekali ibu pernah bilang begitu sambil menatap langit – langit rumah yang lapisan asbesnya sudah lapuk sebelum kami tidur.
Keteguhan pendirianya membuatku selalu merasa bangga, beliau yang selalu jujur, nriman dan pandai bersyukur diam – diam menelusupkan nilai – nilai mulia kepada kami sehingga selalu membuat kami terpesona. Menurutku ayahku sangat beruntung punya istri seperti itu walaupun karena Ibu dia harus menunda – nunda dan hutang sana – sini untuk biaya pengobatan tapi sesungguhnya itulah cinta yang tulus pemberian Ibu. Meskipun kami hidup prihatin tapi aku merasa bahwa kami adalah orang yang paling kaya karena punya aset berharga serta panutan seperti Ibu.
Pipied Ae,
Malang, 9 Januari 2011
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar