Siang ini sungguh tidak nampak sinar matahari sama sekali, hawa dingin karena rintik – rintik air hujan serasa membuatku selalu ingin cepat pulang ke rumah melihat putri kecilku berceloteh dan aduhai hari ini dia berulang tahun yang pertama, sedari istirahat sholat dzuhur tadi aku bertelephon ria dengan mbah putrinya yang sibuk di dapur menyiapkan nasi kuning untuk syukuran Arwa putriku. Sambil duduk di kursi depan jendela kamar kelas melati no.3 panti jompo tempatku bekerja; pandanganku melayang kearah pohon jambu monyet yang buahnya hijau segar terkena tetesan air hujan seharian ini, sungguh seperti segarnya niat dalam hatiku untuk memulai babak baru dalam hidupku; merajut kembali renda – renda kehidupan yang mungkin telah sobek. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih akan aku lakukan sekuat tenaga bersama Ibu dan Putriku walau tanpa hadirnya seorang laki – laki yang disebut Ayah.
Peristiwa kelam itu terjadi sekitar 2 tahun yang lalu, aku seorang mahasiswi jurusan akuntansi berusia 21 tahun yang aktif dalam kegiatan organisasi intra maupun ekstra di kampus; meskipun begitu indeks prestasiku tidak pernah buruk dan aku selalu masuk dalam kriteria mahasiswi berprestasi setiap tahunnya. Memiliki hobi berorganisasi dan pintar tentu membuatku menjadi mahasiswi yang cukup tenar; teman dan kenalan dimana – mana, sampai pada suatu hari aku harus menghadiri rapat Ikatan BEM Akuntansi se-Indonesia dari sanalah aku mengenal seorang laki – laki dewasa yang menarik hati dan itulah awal dimulainya perubahan besar kehidupanku.
Namanya Bratha usianya hampir sebaya denganku, wajahnya tampan dan kelihatanya sangat santun; kepintaranya berorganisasi dan beretorika setiap kali rapat membuatku jatuh hati padanya. Setelah beberapa bulan berkenalan kami memutuskan untuk menjalin hubungan asmara, suatu hari ketika aku selesai rapat hingga larut malam Bratha mengantarku hingga ke kontrakan, setelah turun dari sepeda motornya aku tersandung dan jatuh hingga kakiku nyeri sekali; secara otomatis Bratha langsung menggendongku masuk kedalam kamar walau aku sangat yakin sebelumnya kami tidak punya niatan apapun hari itu tapi tanpa sadar dengan kesengajaan aku telah menyerahkan mahkotaku kepada laki – laki itu.
Dua bulan kemudian hal yang kutakutkan terjadi aku positif hamil, dengan pikiran bingung sempoyongan aku berangkat mencari Bratha ke kampusnya karena kami memang berlainan Universitas tapi masih satu kota. Aku memberitahunya dengan terbata – bata bahwa aku hamil, wajahnya shock tidak percaya kemudian tanpa kuduga sama sekali dengan tenang dia mengatakan,“ Aku seorang yang berprestasi masa depanku masih panjang tidak mungkin aku tiba – tiba harus menghancurkan semuanya, orang tuaku berharap banyak padaku wardah… Apa kau sudah yakin janin yang kau kandung adalah anakku?”. Petir tiba – tiba terasa menyambarku, aku menatapnya dengan wajah pasi tidak percaya, sosok pria yang aku agung – agungkan selama ini ternyata sungguh biadab tidak mau bertanggung jawab atas semua hal yang ia lakukan, tanpa sepatah kata aku langsung berlari meninggalkanya. Sampai di luar gedung ingin sekali aku masuk kembali dan memohon untuk di nikahi setidaknya sampai anak ini lahir namun harga diriku terlalu tinggi untuk berbuat seperti itu.
Selama satu minggu dengan pikiran kacau aku hampir saja melakukan aborsi di salah satu rumah sakit swasta yang aku dapatkan informasinya dari salah seorang teman, sejenak aku merasa lega dengan itu namun tiba – tiba aku teringat ibuku dan aku merasa menjadi seorang sangat kejam yang ingin membunuh darah dagingnya sendiri, aku menangis sendirian di kamar mandi merasa sangat merindukan Ibu dan esok harinya aku memutuskan untuk pulang kerumah. Sampai di rumah aku mengamati Ibu yang mulai renta hidup sendirian dengan pensiunan ayah sebagai anggota TNI sejak 5 tahun yang lalu, merasa tak punya pilihan lagi aku memberitahukan Ibu dan Abangku yang berada di luar jawa bahwa aku hamil dan aku tak mau memberi tahu siapa Ayah anak yang ku kandung. Mereka kaget dan kulihat ibu langsung diam menangis tersedu – sedu; sedang Abangku sangat marah dan hampir menampar mukaku namun di urungkan niatnya sambil berlalu dia berkata akan menghentikan pendanaan untuk kuliahku.
Aku masuk kedalam kamar dengan cairan obat nyamuk di tangan kiriku, pikiranku sudah benar – benar kacau; masa depanku sudah sangat kelabu; rasanya sudah tidak perlu lagi aku hidup. Sesaat sebelum cairan itu kutenggak Ibu mengetuk pintu kamarku dan membukanya sontak dia langsung memelukku karena beliau tahu aku ingin bunuh diri, Ibu menangisi keadaanku kemudian meminta maaf dan mengatakan aku boleh saja mati tetapi mengajak serta janin itu bukan hak ku, hatiku merasa sangat lega meski hanya Ibu yang mau menerimaku dan mau mengerti keadaanku tanpa mengungkit – ungkit dosa yang pernah aku lakukan. Setelah istirahat dan makan bubur ayam buatan Ibu aku merasakan ada yang bergerak – gerak dalam perutku meski lirih dapat kurasakan adanya sebuah ikatan yang sulit untuk di bicarakan; mungkin janinku protes mengapa aku ingin membunuhnya jika bukan dia yang melakukan kesalahan, ibuku membelai perutku yang sudah nampak membuncit; kira – kira usianya sudah 12 minggu kataku, ibu kaget lalu memintaku untuk melupakan kesedihan karena setelah trimester pertama adalah saat yang paling penting untuk pembentukan organ serta otak anak; tentu aku menginginkan anakku sehat dan normal nantinya.
Sesuai dengan yang dikatakan Abangku bahwa tidak ada lagi pendanaan bagiku maka aku harus mulai putar otak untuk mencari uang belanja kebutuhan bayiku serta biaya persalinan di kemudian hari, Ibu melarangku mencari kerja karena beliau masih ada tabungan dengan tambahan tabunganku beasiswa semester lalu kemungkinan sudah cukup untuk biaya persalinan, namun mana mungkin aku tega membebani Ibu lebih berat. Kesana kemari aku mencari kerja akhirnya ada lowongan kerja di panti jompo sebagai perawat yang di beritahu oleh tukang becak langganan Ibu, aku langsung meluncur kesana dengan dua kali naik angkot karena jaranknya yang lumayan jauh. Sampai disana seorang Ibu berusia kira – kira 40 tahun mewawancaraiku; aku mengatakan semua yang terjadi padaku dan sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk biaya persalinanku, jika aku menjadi wanita itu maka aku tak akan menerima wanita hamil karena pasti akan rugi segera meminta cuti melahirkan. Diluar dugaanku aku diterima bahkan sangat diterima selayaknya keluarga sendiri, karena jaraknya yang cukup jauh dari rumah aku mengusulkan untuk kos saja namun diluar dugaanku lagi Ibu mengajak pindah mengontrak rumah dekat lokasi kerjaku, sedangkan rumahnya telah diam – diam beliau tawarkan untuk di jual kepada sahabat lama Ayah.
Dengan lingkungan yang baru maka dimulailah babak baru kehidupanku; apabila dahulu aku mengisi hari – hariku dengan kegiatan berorganisasi dan mengejar target akademis yang melelahkan; maka hari ini aku mengisi hari – hariku dengan sholat dan belajar membaca Al – Qur’an, sesuatu yang sama sekali belum pernah aku lakukan sebelumnya dan rupanya sangat disukai pula oleh janinku, terasa sangat menenangkan dan menyenangkan. Astagfirullah betapa meruginya aku selama ini, Ibu – Ibu perawat yang mengajariku akan arti sebuah hidup berfilsafat, jika kemarin aku merasa bahwa masa depanku sudah hancur maka hari ini aku menyadari yang kulihat bukanlah masa depanku sesungguhnya melainkan melihat kepunyaan orang lain. Inilah sesungguhnya masa depanku mungkin bukan yang di idamkan orang lain namun ada secarik lembaran baru yang mulai terbuka, kebahagiaanku bertambah setiap kali pulang kerumah melihat ibu mengenakan jilbab dan saat kandunganku mencapai bulan ke enam aku mulai mengenakan jilbab pula karena tiba – tiba saja aku merasakan suatu ketenangan jika kain itu menutup kepalaku.
Ketika kandunganku berusia 7 bulan saat membersihkan kamar mandi aku terpeleset, 10 menit kemudian terjadi kontraksi dan hampir abortus namun Allah berkehendak lain aku melahirkan bayi perempuan seberat 1,3kg dengan panjang 28 cm. Subhanallah nikmat mana lagi yang harus aku dustakan meski putriku lahir premature dan hanya di tangani oleh Bidan desa namun putriku sehat dan memiliki kemampuan keras untuk hidup, hal itu membuatku tersindir mengingatkanku akan kejadian masa silam ketika aku ingin membunuhnya. Saat aku memeluk dan menyusuinya aku merasakan sebuah tanggung jawab besar ada di tanganku, tak akan aku biarkan dia seperti diriku yang sama sekali tidak punya fondasi iman didalam ruh nya; hingga walau sepintar apapun itu pasti akan mudah terpeleset oleh tipuan panggung sandiwara dunia ini. Doa pertama kali yang kupanjatkan setelah berucap syukur adalah semoga dia tidak mengalami seperti yang kualami dan dapat dijadikan penawar rasa haus akan kebenaran bagi kami oleh karena itu aku beri dia nama Arwa.
Putriku adalah tujuanku untuk memperbaiki hidup mulai hari itu, dia pula saksi perjalanan babak baru yang indah dalam hidupku; saat putriku dapat berceloteh saat itu aku hafal setidaknya sepuluh surat Makkiyah, saat putriku dapat merangkak kata Ibu perawat bacaan Al-Qur’anku sudah sesuai dengan tajwid, dan ketika putriku mencapai usia satu tahun Alhamdulillah banyak makna kehidupan yang dapat aku pelajari dari banyaknya buku Islami yang kubaca dan cerita para perawat serta para orang tua yang aku rawat di panti jompo. Entah Tuhan akan mengampuni dosa yang melimpah pada diri ini atau tidak namun kesempatan memperbaikinya selalu Allah berikan sampai hari ini, kini yang ku cari bukanlah semata memohon dosa ini diganti dengan nafas surganya karena merasa sungguh tiada pantas diri yang hina ini mengharapkan itu, namun hanya ridlho Allah terhadap ketulusan kalbulah niat lahir batinku.
Tanpa terasa putriku hari ini akan berusia satu tahun, aku meminta ijin untuk pulang lebih awal. Di pintu Ibu dan Arwa sudah menanti kedatanganku; di ruang tamu aku melihat banyak bungkusan nasi kuning sebagai pengucap rasa syukur atas segala kemurahan Allah kepada keluarga kami, acara syukuran sangat sederhana namun terasa sangat khidmat ketika Doa dibacakan untuk putriku tanpa terasa air mataku meleleh mengingat semua yang terjadi selama ini. Setelah semua undangan pulang aku melihat ibu merapikan karpet yang baru saja dipakai, sambil menggendong Arwa aku memeluknya mengucapkan terimakasih hanya itu yang bisa aku lakukan untuk Ibu sampai hari ini, namun tanpa kusangka sambil tanganya mengusap air mataku Ibu bilang bahwa dia bangga kepadaku. Bertiga kami saling berpelukan dan mengucap syukur kepada Allah SWT, bahwa bencana atau cobaan dari-Nya sesungguhnya pada saat yang tepat akan memberikan kebahagiaan sejati yang begitu indah karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang; meski berkali – kali kita melupakanya namun Tuhan jua yang tak pernah bosan mengingatkanya kembali. Fabiayialaairobbikumatukadzibaan, nikmat mana lagi yang akan engkau dustakan.
Pipied ae
Malang, 6 Februari 2011
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar