Kamis, 03 November 2011

Ibu dan Putriku adalah Malaikatku


Siang ini sungguh tidak nampak sinar matahari sama sekali, hawa dingin karena rintik – rintik air hujan serasa membuatku selalu ingin cepat pulang ke rumah melihat putri kecilku berceloteh dan aduhai hari ini dia berulang tahun yang pertama, sedari istirahat sholat dzuhur tadi aku bertelephon ria dengan mbah putrinya yang sibuk di dapur menyiapkan nasi kuning untuk syukuran Arwa putriku. Sambil duduk di kursi depan jendela kamar kelas melati no.3 panti jompo tempatku  bekerja; pandanganku melayang kearah pohon jambu monyet yang buahnya hijau segar terkena tetesan air hujan seharian ini, sungguh seperti segarnya niat dalam hatiku untuk memulai babak baru dalam hidupku; merajut kembali renda – renda kehidupan yang mungkin telah sobek. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih akan aku lakukan sekuat tenaga bersama Ibu dan Putriku walau tanpa hadirnya seorang laki – laki yang disebut Ayah.

            Peristiwa kelam itu terjadi sekitar 2 tahun yang lalu, aku seorang mahasiswi jurusan akuntansi berusia 21 tahun yang aktif dalam kegiatan organisasi intra maupun ekstra di kampus; meskipun begitu indeks prestasiku tidak pernah buruk dan aku selalu masuk dalam kriteria mahasiswi berprestasi setiap tahunnya. Memiliki hobi berorganisasi dan pintar tentu membuatku menjadi mahasiswi yang cukup tenar; teman dan kenalan dimana – mana, sampai pada suatu hari aku harus menghadiri rapat Ikatan BEM Akuntansi se-Indonesia dari sanalah aku mengenal seorang laki – laki dewasa yang menarik hati dan itulah awal dimulainya perubahan besar kehidupanku.

            Namanya Bratha usianya hampir sebaya denganku, wajahnya tampan dan kelihatanya sangat santun; kepintaranya berorganisasi dan beretorika setiap kali rapat membuatku jatuh hati padanya. Setelah beberapa bulan berkenalan kami memutuskan untuk menjalin hubungan asmara, suatu hari ketika aku selesai rapat hingga larut malam Bratha mengantarku hingga ke kontrakan, setelah turun dari sepeda motornya aku tersandung dan jatuh hingga kakiku nyeri sekali; secara otomatis Bratha langsung menggendongku masuk kedalam kamar walau aku sangat yakin sebelumnya kami tidak punya niatan apapun hari itu tapi tanpa sadar dengan kesengajaan aku telah menyerahkan mahkotaku kepada laki – laki itu.

            Dua bulan kemudian hal yang kutakutkan terjadi aku positif hamil, dengan pikiran bingung sempoyongan aku berangkat mencari Bratha ke kampusnya karena kami memang berlainan Universitas tapi masih satu kota. Aku memberitahunya dengan terbata – bata bahwa aku hamil, wajahnya shock tidak percaya kemudian tanpa kuduga sama sekali dengan tenang dia mengatakan,“ Aku seorang yang berprestasi masa depanku masih panjang tidak mungkin aku tiba – tiba harus menghancurkan semuanya, orang tuaku berharap banyak padaku wardah… Apa kau sudah yakin janin yang kau kandung adalah anakku?”. Petir tiba – tiba terasa menyambarku, aku menatapnya dengan wajah pasi tidak percaya, sosok pria yang aku agung – agungkan selama ini ternyata sungguh biadab tidak mau bertanggung jawab atas semua hal yang ia lakukan, tanpa sepatah kata aku langsung berlari meninggalkanya. Sampai di luar gedung ingin sekali aku masuk kembali dan memohon untuk di nikahi setidaknya sampai anak ini lahir namun harga diriku terlalu tinggi untuk berbuat seperti itu.

            Selama satu minggu dengan pikiran kacau aku hampir saja melakukan aborsi di salah satu rumah sakit swasta yang aku dapatkan informasinya dari salah seorang teman, sejenak aku merasa lega dengan itu namun tiba – tiba aku teringat ibuku dan aku merasa menjadi seorang sangat kejam yang ingin membunuh darah dagingnya sendiri, aku menangis sendirian di kamar mandi merasa sangat merindukan Ibu dan esok harinya aku memutuskan untuk pulang kerumah. Sampai di rumah aku mengamati Ibu yang mulai renta hidup sendirian dengan pensiunan ayah sebagai anggota TNI sejak 5 tahun yang lalu, merasa tak punya pilihan lagi aku memberitahukan Ibu dan Abangku yang berada di luar jawa bahwa aku hamil dan aku tak mau memberi tahu siapa Ayah anak yang ku kandung. Mereka kaget  dan kulihat ibu langsung diam menangis tersedu – sedu; sedang Abangku sangat marah dan hampir menampar mukaku namun di urungkan niatnya sambil berlalu dia berkata akan menghentikan pendanaan untuk kuliahku.

            Aku masuk kedalam kamar dengan cairan obat nyamuk di tangan kiriku, pikiranku sudah benar – benar kacau; masa depanku sudah sangat kelabu; rasanya sudah tidak perlu lagi aku hidup. Sesaat sebelum cairan itu kutenggak Ibu mengetuk pintu kamarku dan membukanya sontak dia langsung memelukku karena beliau tahu aku ingin bunuh diri, Ibu menangisi keadaanku kemudian meminta maaf dan mengatakan aku boleh saja mati tetapi mengajak serta janin itu bukan hak ku, hatiku merasa sangat lega meski hanya Ibu yang mau menerimaku dan mau mengerti keadaanku tanpa mengungkit – ungkit dosa yang pernah aku lakukan. Setelah istirahat dan makan bubur ayam buatan Ibu aku merasakan ada yang bergerak – gerak dalam perutku meski lirih dapat kurasakan adanya sebuah ikatan yang sulit untuk di bicarakan; mungkin janinku protes mengapa aku ingin membunuhnya jika bukan dia yang melakukan kesalahan, ibuku membelai perutku yang sudah nampak membuncit; kira – kira usianya sudah 12 minggu kataku, ibu kaget lalu memintaku untuk melupakan kesedihan karena setelah trimester pertama adalah saat yang paling penting untuk pembentukan organ serta otak anak; tentu aku menginginkan anakku sehat dan normal nantinya.

            Sesuai dengan yang dikatakan Abangku bahwa tidak ada lagi pendanaan bagiku maka aku harus mulai putar otak untuk mencari uang belanja kebutuhan bayiku serta biaya persalinan di kemudian hari, Ibu melarangku mencari kerja karena beliau masih ada tabungan dengan tambahan tabunganku beasiswa semester lalu kemungkinan sudah cukup untuk biaya persalinan, namun mana mungkin aku tega membebani Ibu lebih berat. Kesana kemari aku mencari kerja akhirnya ada lowongan kerja di panti jompo sebagai perawat yang di beritahu oleh tukang becak langganan Ibu, aku langsung meluncur kesana dengan dua kali naik angkot karena jaranknya yang lumayan jauh. Sampai disana seorang Ibu berusia kira – kira 40 tahun mewawancaraiku; aku mengatakan semua yang terjadi padaku dan sangat membutuhkan pekerjaan itu untuk biaya persalinanku, jika aku menjadi wanita itu maka aku tak akan menerima wanita hamil karena pasti akan rugi segera meminta cuti melahirkan. Diluar dugaanku aku diterima bahkan sangat diterima selayaknya keluarga sendiri, karena jaraknya yang cukup jauh dari rumah aku mengusulkan untuk kos saja namun diluar dugaanku lagi Ibu mengajak pindah mengontrak rumah dekat lokasi kerjaku, sedangkan rumahnya telah diam – diam beliau tawarkan untuk di jual kepada sahabat lama Ayah.

            Dengan lingkungan yang baru maka dimulailah babak baru kehidupanku; apabila dahulu aku mengisi hari – hariku dengan kegiatan berorganisasi dan mengejar target akademis yang melelahkan; maka hari ini aku mengisi hari – hariku dengan sholat dan belajar membaca Al – Qur’an, sesuatu yang sama sekali belum pernah aku lakukan sebelumnya dan rupanya sangat disukai pula oleh janinku, terasa sangat menenangkan dan menyenangkan.  Astagfirullah betapa meruginya aku selama ini, Ibu – Ibu perawat yang mengajariku akan arti sebuah hidup berfilsafat, jika kemarin aku merasa bahwa masa depanku sudah hancur maka hari ini aku menyadari yang kulihat bukanlah masa depanku sesungguhnya melainkan melihat kepunyaan orang lain. Inilah sesungguhnya masa depanku mungkin bukan yang di idamkan orang lain namun ada secarik lembaran baru yang mulai terbuka, kebahagiaanku bertambah setiap kali pulang kerumah melihat ibu mengenakan jilbab dan saat kandunganku mencapai bulan ke enam aku mulai mengenakan jilbab pula karena tiba – tiba saja aku merasakan suatu ketenangan jika kain itu menutup kepalaku.

            Ketika kandunganku berusia 7 bulan saat membersihkan kamar mandi aku terpeleset, 10 menit kemudian terjadi kontraksi dan hampir abortus namun Allah berkehendak lain aku melahirkan bayi perempuan seberat 1,3kg dengan panjang 28 cm. Subhanallah nikmat mana lagi yang harus aku dustakan meski putriku lahir premature dan hanya di tangani oleh Bidan desa namun putriku sehat dan memiliki kemampuan keras untuk hidup, hal itu membuatku tersindir mengingatkanku akan kejadian masa silam ketika aku ingin membunuhnya. Saat aku memeluk dan menyusuinya aku merasakan sebuah tanggung jawab besar ada di tanganku, tak akan aku biarkan dia seperti diriku yang sama sekali tidak punya fondasi iman didalam ruh nya; hingga walau sepintar apapun itu pasti akan mudah terpeleset oleh tipuan panggung sandiwara dunia ini. Doa pertama kali yang kupanjatkan setelah berucap syukur adalah semoga dia tidak mengalami seperti yang kualami dan dapat dijadikan penawar rasa haus akan kebenaran bagi kami oleh karena itu aku beri dia nama Arwa.

            Putriku adalah tujuanku untuk memperbaiki hidup mulai hari itu, dia pula saksi perjalanan babak baru yang indah dalam hidupku; saat putriku dapat berceloteh saat itu aku hafal setidaknya sepuluh surat Makkiyah, saat putriku dapat merangkak kata Ibu perawat bacaan Al-Qur’anku sudah sesuai dengan tajwid, dan ketika putriku mencapai usia satu tahun Alhamdulillah banyak makna kehidupan yang dapat aku pelajari dari banyaknya buku Islami yang kubaca dan cerita para perawat serta para orang tua yang aku rawat di panti jompo. Entah Tuhan akan mengampuni dosa yang melimpah pada diri ini atau tidak namun kesempatan memperbaikinya selalu Allah berikan sampai hari ini, kini yang ku cari bukanlah semata memohon dosa ini diganti dengan nafas surganya karena merasa sungguh tiada pantas diri yang hina ini mengharapkan itu, namun hanya ridlho Allah terhadap ketulusan kalbulah niat lahir batinku.

Tanpa terasa putriku hari ini akan berusia satu tahun, aku meminta ijin untuk pulang lebih awal. Di pintu Ibu dan Arwa sudah menanti kedatanganku; di ruang tamu aku melihat banyak bungkusan nasi kuning sebagai pengucap rasa syukur atas segala kemurahan Allah kepada keluarga kami, acara syukuran sangat sederhana namun terasa sangat khidmat ketika Doa dibacakan untuk putriku tanpa terasa air mataku meleleh mengingat semua yang terjadi selama ini. Setelah semua undangan pulang aku melihat ibu merapikan karpet yang baru saja dipakai, sambil menggendong Arwa aku memeluknya mengucapkan terimakasih hanya itu yang bisa aku lakukan untuk Ibu sampai hari ini, namun tanpa kusangka sambil tanganya mengusap air mataku Ibu bilang bahwa dia bangga kepadaku. Bertiga kami saling berpelukan dan mengucap syukur kepada Allah SWT, bahwa bencana atau cobaan dari-Nya sesungguhnya pada saat yang tepat akan memberikan kebahagiaan sejati  yang begitu indah karena Allah Maha Pengasih dan Penyayang; meski berkali – kali kita melupakanya namun Tuhan jua yang tak pernah bosan mengingatkanya kembali. Fabiayialaairobbikumatukadzibaan, nikmat mana lagi yang akan engkau dustakan.

Pipied ae
Malang, 6 Februari 2011

Ibuku Jadi Makelar Tanah

            Telephon rumah akhir – akhir ini menjadi sering berdering, seperti pagi itu ada beberapa deringan telephon kesemuanya yang mengangkat adalah Ibuku dan memang telephon itu untuk Ibu. Ibuku adalah Ibu rumah tangga biasa tidak punya pekerjaan dan kegiatan kecuali hanya memasak dan mencuci tetapi tiba – tiba harus menjadi makelar tanah dan rumah karena kondisi keuangan keluarga memburuk serta ayah sering sakit – sakitan sehingga perlu  banyak biaya untuk  berobat.
            Semua berawal dari ayah yang opname di Rumah sakit, seluruh tabungan keluarga terkuras habis untuk biaya berobat ayah, tiba – tiba Ibu memiliki ide untuk menjual tanah beserta rumah warisan di pinggir jalan itu. Kesana kemari Ibu menawarkanya dan iseng memasukkannya pula ke rubrik Koran radar daerah kami.
            Dari ide Ibuku itulah telephon rumah kami akhir – akhir ini menjadi laku, setiap kali ada yang menawar dan menanyakan kondisi rumah Ibuku selalu menjawab bahwa rumah tersebut kecil, semua kusain dan tiang – tiang rumah sudah rusak tidak terawat, saluran listriknya di putus, sumber airnya buruk serta asin, di depan rumah tersebut ada pohon besar yang harus segera di tebang serta tetangga banyak mengisukan bahwa pohon tersebut berhantu.
Begitulah cerita Ibuku selalu apabila ada yang ingin menawar rumah dan tanah warisan kami, dan tentu saja calon pembeli selalu membatalkan niatnya membeli. Aku selalu tau apa yang di ucapkan calon pembeli sesaat setelah Ibuku menutup telphon karena Ibu selalu menceritakanya, ada yang bilang jika Ibu terlalu polos menjadi makelar si calon pembeli mengatakanya sambil terbahak sambil bilang maaf dan menolaknya, ada yang bilang jika rumah itu dijadikan museum saja, bahkan ada yang langsung menutup telphonnya karena takut jika membeli rumahnya berhadiah hantu.
Hatiku miris melihat wajah kecewa Ibu setelah setiap kali menutup telphonya, di saat kami benar – benar memerlukan uang Ibu tetap tegar dalam pendirianya untuk jujur. Namun siapa yang mau menyalahkan pembeli mengetahui keadaan seperti itu aku pun akan lari, bisa memerlukan biaya yang cukup besar untuk memperbaikinya. Bagi kami rumah itu juga sangat merugikan karena sesekali kami harus mengeluarkan biaya sewa pekerja untuk menyiangi rumput dan membersihkan rumah.
            Namun itulah Ibuku, menurutnya suatu hari pasti akan datang orang yang mau membeli rumah itu dengan keadaan apa adanya, berbohong dengan bilang keadaan yang ada lebih baik dari yang sebenarnya akan membuat orang marah dan kecewa, perasaan kecewa itu dalam ibarat luka akan membekas walaupun sudah diberi antibiotic dan membuat seseorang kapok ( jera ) mengulangi atau mengenali si pembuat luka lagi. Intinya sakit karena di bohongi adalah sangat sakit sehingga Naudzubillah mengalaminya.
Hingga sampai saat ini rumah itu belum juga laku terjual,entah kapan kami bisa menjualnya  atau mungkin tak akan pernah terjual. Pikirku mungkin orang – orang akan lebih suka jika kita buai dengan kebohongan dan kemunafikan, setidaknya walau dia tau akan menderita diakhir cerita tetapi setidaknya sebelumnya dia sudah merasakan kesenangan  dan kebahagiaan walaupun semu.
            Sifat itulah yang paling di benci Ibuku buatnya lebih baik selamanya tidak punya uang dari pada harus membuat orang dan dirinya rugi. Orang yang kena tipu pasti tidak enak makan dan tidurnya serta matinya ngenes karena tidak ikhlas, begitu pula orang yang menipu belum tentu akan bahagia makan dan tidurnya tidak mengenyangkan dan barokah serta matinya pasti akan mengenaskan. Sesekali ibu pernah bilang begitu sambil menatap langit – langit rumah yang lapisan asbesnya sudah lapuk sebelum kami tidur.
            Keteguhan pendirianya membuatku selalu merasa bangga, beliau yang selalu jujur, nriman dan pandai bersyukur diam – diam menelusupkan nilai – nilai mulia kepada kami sehingga selalu membuat kami terpesona. Menurutku ayahku sangat beruntung punya istri seperti itu walaupun karena Ibu dia harus menunda – nunda dan hutang sana – sini untuk biaya pengobatan tapi sesungguhnya itulah cinta yang tulus pemberian Ibu. Meskipun kami hidup prihatin tapi aku merasa bahwa kami adalah orang yang paling kaya karena punya aset berharga serta panutan seperti Ibu.
Pipied Ae,
Malang, 9 Januari 2011

Ayah Restui Kami

Hari – hariku menjadi berbeda tiba – tiba setelah mengenalnya, namanya Hilman usianya 3 tahun diatasku,  dia pemuda biasa saja dari keluarga yang sederhana tidak banyak yang kutahu darinya karena kami hanya tetangga desa sedang aku dari kecil selalu memiliki teman diluar lingkungan tempat tinggalku hal itu disebabkan letak sekolahku yang selalu jauh dari desa. Pendidikannya terakhir hanya Sekolah Menengah Atas oleh karena itu pekerjaanya hanya sebagai pekerja serabutan di bengkel yang jaraknya tidak lebih 2 km dari rumahku.
Hari itu pertama kali aku bertemu dengan mas Hilman begitu cara aku memanggilnya, aku yang kebetulan punya kesempatan kuliah di luar kota sore itu pulang dengan naik kereta api, tiba – tiba saja hujan mengguyur dengan derasnya dengan berlari aku mencari tempat berteduh dan tanpa aku sangka tas besar yang aku jinjing ada tangan yang menariknya kemudian membawanya kearah warung kopi sedang tanganya yang satunya lagi menarik tanganku seraya mengajakku lari bersamanya.
Belum rasa kagetku telah usai rupanya mas Hilman ingin mengajakku bicara tetapi yang aneh kali ini ia menggunakan gerakan badan, tangan, kontak mata serta mimik wajah didepanku untuk memberitahuku sesuatu yang ingin ia sampaikan. Iya baru aku tahu bahwa mas Hilman selama ini adalah seorang tuna rungu, seorang di belakangku yang tak lain adalah pakde Supri pemilik bengkel dekat rumahku memberitahuku kalau alat bantu dengarnya ketinggalan di bengkel jadi mas Hilman tidak akan mendengar pembicaraanku. Mas Hilman ingin memberitahuku bahwa ia meminta maaf  jika tadi membuatku kaget dan takut dengan tiba – tiba menarik tanganku untuk berteduh.
Keesokan harinya tanpa di sengaja ban motor milik Ayahku bocor terkena paku, sengaja aku yang meminta untuk menambalkannya ke bengkel pakde Supri alasanku sekalian ingin mengucapkan terima kasih karena kemarin sudah diantar pulang oleh mas Hilman. Sampai disana kutemui mas Hilman sedang melakukan sholat Dhuha di bengkel, sambil tertegun aku menunggunya selesai dan perasaan sejuk tiba – tiba seakan merayapi relung jiwaku. Dengan telaten dia memperbaiki ban motor Ayahku sambil sesekali menatapku sambil tersenyum dan Subhanallah senyumnya manis sekali hingga rasanya pipiku merona karena tersipu menerimanya. Dan bersamanya hari itu tidak lupa membuatku terkaget juga oleh datangnya anak kecil berpakaian seragam Taman Kanak – Kanak dengan riang memeluk dan merajuk pada mas Hilman dari belakang sambil memanggilnya Ayah, sontak aku kaget sekali karena belum pernah aku dengar mas Hilman sudah menikah ataukah aku yang tidak tahu selama ini jika dia sudah menikah.
Kejadian hari itu membuatku selalu bertanya – tanya didalam hati hingga saat aku memulai perkuliahan di kota semarang lagi, pada siang hari saat aku pulang tanpa sengaja bertemu dengan pakde Supri di persimpangan jalan tanpa malu – malu aku menanyakan keadaan mas Hilman, tanpa aku minta beliau menceritakan banyak hal mengenai mas Hilman, ternyata anak itu bukanlah anak kandungnya melainkan anak sepupunya yang hamil diluar nikah dan meninggal saat melahirkan, oleh karena itu mas Hilman yang mengasuhnya, ya mas Hilman seorang diri yang mengasuhnya dari bayi aku katakan begitu karena ibunya teman satu – satunya dirumah adalah seorang janda yang sudah renta. Rasanya tidak bisa aku membayangkan bagaimana jika aku di posisi laki – laki itu, betapa besar rasa kagumku kepadanya Subhanallah dia benar – benar manusia biasa memang namun bagiku sungguh tidak biasa. Ada satu kalimat yang paling aku suka dari cerita panjang yang di ucapkan pakde Supri jika mas Hilman menyukaiku entah itu benar atau tidak atau bagian mana dari diriku yang pantas ia sukai aku tidak tahu, yang jelas aku menjadi tersipu malu mendengarnya.
Itulah sekelumit cerita mengenai mas Hilman, dengan berjalanya waktu beriringan dengan intensitas pertemuan kami yang jarang sekali terjadi sampai juga pada babak kami memadu kisah kasih, belum pernah aku rasakan perasaan bahagia dan percaya yang begitu lembut namun kuat di samping laki – laki lain dan hanya pada diri mas Hilman aku menemukanya. Keluargaku belum mengetahui jika aku menjalin cinta kasih dengan mas Hilman sebelumnya, hingga saat aku diwisuda itulah kali pertama Ayahku mengetahuinya karena mas Hilman datang ke kampusku untuk menjadi pasangan wisudaku dan kupikir akan cocok momentnya jika sekalian aku mengenalkannya dengan orang tuaku. Semua itu adalah murni ideku namun semuanya meleset dari dugaanku tanpa kuduga Ayahku marah dan memaki – maki mas Hilman didepan banyak orang, Ayah mengira bahwa aku menyukainya karena dia mengguna – ngguna diriku.
Hari itu aku putus kontak dengan mas Hilman padahal aku belum minta maaf atas kejadian itu, benar saja Ayahku tidak menyetujuinya karena menurutnya banyak kekurangan di diri mas Hilman hingga tidak pantas jadi calon suamiku, aku bisa mengerti tentang perasaan Ayah tapi bukan dengan cara membentak – bentak sambil marah kepada mas Hilman seperti kemarin, melihatnya aku hanya bisa menangis terisak menahan dadaku yang sesak dan sakit. Ayah tidak pernah mengenal siapa mas Hilman, setiap kali kucoba menjelaskan alasan – alasanku mencintai mas Hilman Ayahku serasa sengaja menutup telinganya tidak mau mendengar hingga Ayah meminta pula bantuan orang pintar untuk membantuku melupakan mas Hilman. Aku hanya bisa mengelus dada dan tertawa miris didalam hati mengapa Ayahku seperti itu, tentu saja aku tidak akan terpengaruh dengan jampi – jampi macam begituan karena semuanya kulakukan dengan jiwa yang fitrah.
Setiap malam aku selalu menangis didalam tidurku dan menyesali mengapa Ayahku yang selama ini sangat aku banggakan karena kebijaksanaanya menjadi begitu keras, tamak dan membutakan mata batinya hanya untuk mencari kepuasan duniawi saja. Begitu adilkah jika kita hanya melihat seseorang dari kenampakan luarnya saja tanpa harus mengenali kemuliaan yang terkandung didalamnya, sampai saat itu aku sama sekali belum mendengar kabar mas Hilman entah bagaimana keadaanya diluar sana.
Ya Allah ya Tuhanku sampai hampir 2 bulan aku dikurung didalam rumah pergi untuk mencari pekerjaan aku dilarang bahkan keluar untuk beli pembalut aku tidak diijinkan, hanya beribu – ribu istigfar yang dapat keluar dari mulutku. Perasaan bersalah kepada mas Hilman semakin menguat, teman bicara aku tidak punya karena Ibu pun bungkam dengan keadaanku karena takut pada Ayah, makan dan tidur rasanya tidak enak lagi, berat badanku menyusut drastis, belum lagi jika aku dengar bahwa Ayah akan menjodohkanku dengan seorang kontraktor duda kaya asal kota malang.

Astagfirullahaladziim selalu itu saja yang bisa aku ucapkan sambil meneteskan air mata, hingga semua beban pikiran itu memuncak dan menumpuk dikepalaku dan tiba juga hari itu saat aku kekamar mandi dengan sempoyongan aku terjatuh kepalaku terbentur bak kamar mandi dan aku tidak ingat apa – apa lagi semuanya gelap, yang masih kudengar saat itu adalah teriakan ibuku dari dapur.
Hari itu juga aku dibawa kerumah sakit swasta di daerahku, menurut cerita yang ku dengar hari saat aku siuman adalah hari ketiga dari aku jatuh. Dan saat aku membuka mata semua badanku terasa berat dan sangat sakit di semua bagian bahkan saat aku ingin bicara pun aku tidak bisa, iya aku terkena struck yang cukup parah, kakiku menjadi lumpuh dan sulit berbicara. Dan hari itu untuk pertama kalinya aku bertemu dengan mas Hilman ternyata Ayah yang memintanya untuk menemaniku saat aku tidak berdaya seperti ini.
Apakah aku menyalahkan Ayahku dengan keadaanku seperti ini?, sungguh tidak… aku berbalik  mensyukurinya karena dengan diriku begini aku yakin Ayah yang aku sayangi akan mendapatkan pelajaran yang berharga, baru bisa hari itu aku dapat merasakan gembira karena dapat menjadi anak yang berguna. Apakah mas Hilman meninggalkanku?, tentu saja tidak… hari itu juga mas Hilman melamarku menjadi istrinya dan lusa kami akan menikah di bengkel tempat mas Hilman bekerja karena ternyata bengkel itu sudah di beli mas Hilman sejak 3 bulan yang lalu. Ayah menyaksikan cara mas Hilman melamar dan meyakinkanku untuk menerimanya mungkin dengan perasaan campur aduk dan baru kali itu aku melihat Ayah menangis.

Aku yakin pernikahanku akan menjadi pernikahan yang berhasil dan membawa barokah pada keluargaku serta keluarga kecilku bersama mas Hilman serta haikal anak angkat kami nantinya, akupun akan berusaha dan berdo’a supaya di beri lekas kesembuhan. Semoga setelah banyaknya air mata yang tercucur dari kami semuanya dengan kebijakan dan kebaikan Ilahi akan diganti dengan senyum dan kebahagiaan sejati… Terkadang seindah apapun cara kita merencanakan dan berusaha mengabulkan sesuatu yang kita inginkan belum tentu, bahkan tak akan seindah apa yang sudah direncanakan Allah kepada kita sampai saat kita mengetahuinya sendiri suatu saat hingga hari itu datang.

Pipied Ae,
Malang, 11 januari 2011