Ada seekor merpati yang tiba – tiba tersesat dari bangunya di dunia baru yang indah dan penuh keramahan, disana dia bertemu dengan seorang pangeran merpati yang tampan, baik hati, kaya dan berssahaja. Sang pangeran mengajak merpati ke istanannya, mengenalkanya pada orang tuanya dan teman – temanya,semua yang ada disana baik dan kelihatan sangat menyayangi merpati. Sang merpati sangat bahagia karena keinginanya terpenuhi sesuatu hal yang sangat ia impikan sejak kecil yakni mendapatkan mahkota indah di kepalanya dari seorang pangeran telah terpenuhi.
Namun semakin lama dia tinggal disana, merpati mulai bosan ternyata istana yang begitu indah terasa membosankan juga, tiba – tiba dia selalu ingat dengan lingkungan yang dahulu ia tinggal, tempat yang kotor dan kumuh disana. Rasa masakan yang lezat di istana ternyata tak selezat makanan murah di lingkunnganya, mandi di istana ternyata tak semenyenangkan mandi lumpur di tempat asalnya. Dia pun mulai jenuh dengan mahkotanya karena tdak bisa menyanyi semerdu burung bangau yang jahil, tidak bisa menari seindah burung bangau yang polos, dan tak sekonyol burung hantu yang pemalas.
Merpati mulaia menangis semakin lama semakin kencang, dia merasa kesepian sendiri semakin lama semakin dan gelap akhirnya dia tertidur pulas, didalam mimpi sang putri ia melihat teman – temanya sedang bersedih hati begitupun dengan kedua orang tuanya.
Dia melihat burung yang sehari – hari sangat jahil padanya mau berdoa untuk keselamatanya, ia melihat kuda poni kesana kemari bertanya dan berusaha mencari dirinya bahkan kuda poni memiliki niatan untuk menerjuni jurang yang dalam untuk mencarinya, kemudian dia melihat burung hantu yang mungkin dalam keseharian tidak pernah memperdulikannya menangis dan tidak bisa tidur karena sangat mencemaskan keadaan merpati, dimana merpati berada, bersama orang baikkah dia sekarang hingga burung hantu menangis di etngah malam.
Dan orang tua si merpati jangan ditanya lagi mereka begitu cemas dan rindu dengan merpati, didalam panjatan doa oleh semua orang yang ia tinggalkan tiba – tiba dia dapat mendengarkannya “ Pulanglah wahai merpati kesanyangan kami, kembalilah kelingkunganmu disini, berusaha nikmatilah cinta yang kami tawarkan walaupun tak banyak, pulanglah kami menyayangimu “.
‘Mendengar itu perasaan merpati semakin kalut dan bergegas untuk segera pulang, kemudian membuang jauh – jauh mahkota yang ada dikepalanya dan mulai berlari sekencang – kencangnya agar belum terlambat’, pikir sang burung hantu. Akan tetapi pada kenyataanya sang merpati tak pernah pulang bahkan member kabar pun tidak, terkadang memang kita tidak pernah bisa benar – benar memahami bagaimana rasanya menjadi orang lain…
NB : untuk sahabat – sahabatku aku sayang kalian…..
Pipied ae, 20 Nopember 2010
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar